Thursday, October 9, 2014

Kumpulan cerita pengalaman kena tilang part2



Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya, ceritapengalaman kena tilang. Tujuan sharing sih berharap ada yang butuh info tentang tilang. Eh, tapi saya tidak mendoakan kalau pembaca kena tilang lhoh ya *lol*


4. Mahasiswa – pulang dari internship
So other other story was when I was in internship, di sebuah pabrik manufacture energy “A” milik Prancis *saat itu* di Surabaya. Sepulang kerja part time ini, saya sepertinya agak terburu-buru sehingga saat lampu menyala ijo hampir merah  saya tetap hajar. Dan ya, keliatan pak polisi yang memang setiap hari nongkrong di perempatan jalan itu. Ini lokasinya di perempatan kearah Unair kampus C dari arah Kapasan. Kena pritt sama pak polisi dan disuruh minggir. Haduuuh apalagi ini, pikirku saat itu. Soalnya aku DP aja karena aku liat lampunya masih hijau meskipun udah ketap ketip mau merah. 

“Mbak itu lampunya merah ko tetap jalan?”
“Tapi tadi pas saya jalan masih hijau ko Pak”.
Pembicaraan buntu, saya terus mengelak, pak polisi terus menyalahkan.
Ada beberapa polisi sih di situ. Kemudian saya diarahkan ke atasannya untuk dibuatkan surat tilang. Karena sudah pengalaman dengan sidang sebelumnya, saya cukup PD kalaupun harus kena sidang lagi.

Oh iya, ini polisinya umurnya sekitar sudah bapak-bapak 40 tahunan sekian lah umurnya.
“Kena tilang ya Mbak,”
“Yasudah lah Pak” jawab saya pasrah.
Kemudian sambil siap-siapin kertas dan peratalan tilang, pak polisinya mengajak bercakap-cakap. Dia bertanya saya dari mana, sedang apa, berbuat apa, *bukan lagu ya*
Saya jawab, masih mahasiswa, lagi kerja part time di perusahaan ini, ini baru pulang ke kos mau ngejar tugas akhir bla bla bla… Entah karena cerita saya terlalu mengharukan atau doa saya melembutkan hatinya berhasil, apa pun itu saya bersyukur. Tiba-tiba bapak polisinya tidak jadi menulis surat tilang dan kemudian melepaskan saya.

“Yasudah Mbak pulang saja, lain kali jangan diulangi lagi ya”.
Saya kaget bercampur senang. Saya ucapkan terima kasih dan langsung tancap gas. Alhamdulillah.

5. Mahasiswa – berangkat internship
Pengalaman selanjutnya adalah saat saya akan berangkat ke perusahaan “A” dengan terburu-buru karena sudah sangat telat. Memang sih, perusahaan Eropa/Amerika tidak strict dengan jam masuk, hanya saja saya sungkan dengan manager saya karena dia hampir tidak pernah telat masuk meskipun bapak-bapak manager yang lain pada datang siang.
So didasari dengan buru-buru, saya tancap gas super tidak karuan. Kebiasaan tidak baik memang. Sebisa mungkin jangan melakukan hal ini. Safety is the first. Masih di sekitar kampus C Unair, di sana cukup banyak pemberhentian lampu lalu lintas, dan memang sering kali pengendara meng”hajar” lampu merah karena situasi memang cukup sepi. Kali ini sepertinya saya pun tergoda untuk bablas karena memang nampak tidak ada pengendara lain di perempatan ini. 

Benar-benar pengalaman tidak enak ini. Niat buruk memang selalu berakibat jelek. Dan akhirnya motor saya di priitt sama pak Polisi yang standby di balik pohon, beberapa meter setelah perempatan lalu lintas. Ya Alloh, kena lagi. Kali ini pak polisinya cuma seorang. Ini pak polisinya sukses banget sembunyinya lhoh. Bener-bener kaget saya karena saya pikir jalanan sepi. Kena telak lah saya melanggar lampu merah. Yasudah pasrah, supaya tidak lama-lama juga karena saya sudah telat berangkatnya. 

“Lima puluh ribu aja Mbak”.
Lah saya kaget tiba-tiba ditembak gocap. Ini polisi jujur amat ya, terus terang banget.
Lagi-lagi saya tunjukin dompet saya yang sedang tidak membawa uang sama sekali. Hanya ada selembar kertas merah, uang pecahan sepuluh ribu rupiah untuk beli bensin nanti.
“Yasudah 10 ribu saja boleh mbak”.
“What???!!”.
Ya ampun bener-bener ini polisi! Entah polisi beneran atau gadungan, tanpa babibu lagi saya langsung menyerahkan selembar uang itu kepadanya dan tancap gas sesegera mungkin. 

Yasudah lah, memang lagi apes, saya juga takut kalau sok jago sendirian di jalanan sepi seperti itu.

6. Mahasiswa – berangkat mengajar privat
Ini pengalaman yang nggak banget menurut saya. Ceritanya, saya dapat murid baru, lokasinya cukup jauuuhhh banget dari tempat kos. Perjalanan dari kos ke sana menempuh waktu sejam. Saya lupa alamat jelasnya. Yang jelas, dekat dengan gelanggang olahraga di Surabaya. Kejadian ini terjadi pada pertemuan kedua. Pertemuan pertama cukup lancar karena ditemani oleh pemilik lembaga bimbingan belajar. 

Saya cukup merasa kerepotan dengan jarak tempuh dan jalan yang berliku-liku. Memang, lokasinya cukup jauh dan melewati jalan besar yang ramai. Agak menyesal juga menerima siswa yang ini. Pengalaman tilangnya terjadi saat saya melewati sebuah jalan kecil menuju jalan besar yang ternyata merupakan jalan satu arah. Pantas saja jalannya sepi *tepok jidat*. Saya awalnya berpikir bahwa itu adalah jalan pintas. Karena memang kurang familiar, maklum lah kalau nyasar sana sini. Kok ya pas banget di ujung jalan itu ada pos polisi. Yes, kena tilang lagi, alamak. 

“Mbak minggir dulu.” Kata-kata pembuka yang klise dari para polisi lalu lintas. Pos nya lumayan besar, ada tv segala.
“Harusnya Mbak tidak lewat jalan ini, ini jalan satu arah mbak”.
“Iya Pak Polisi, saya juga baru sadar kalau salah jalan, saya bukan orang Surabaya Pak, maklum.”
Pak polisinya masih muda-muda, baru diangkat mungkin. Setelah tanya-tanya sana sini, saya bilang bukan asli Surabaya, numpang belajar saja, ini mau ke tempat murid privat, sudah telat, blab la bla..

Eh pak polisinya rada iseng mungkin ya.
“Gini aja, nggak usah tilang, Mbak di sini dulu aja.”
Waduh saya tidak boleh pulang sampai sejam kemudian mau tidak mau saya memaksa pulang. Ngawur aja ini polisi membuang waktu saya. Saya cuman tengak tenguk nonton tv padahal murid privat saya mungkin sudah sebel menunggu saya. Ketika saya bilang saya datang terlambat, dia malah bilang lesnya hari ini di skip saja ke pertemuan berikutnya*sigh*. Padahal sudah datang jauh-jauh. Dan ternyata, sebelum pertemuan selanjutnya, anak ini meminta ganti guru baru. Sepertinya saya gagal menciptakan chemistry di pertemuan pertama kami. Jujur ini kali pertama saya di”tolak” oleh murid. Murid-murid yang lain enjoy aja, malah bisa jadi teman lhoh. Waaah, mimpi apa saya semalam. 

7. Karyawan – berangkat ke dokter kulit
Di post lain, saya akan ceritakan tentang pengalaman sayaterkena racun serangga. So berawal dari racun serangga ini, saya ijin dari kantor untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan ke dokter spesialis kulit. Awalnya sih saya belum paham kalau gangguan di kulit wajah saya ini adalah ulah racun serangga. Dari kantor saya pinjam motor teman, untung saja STNK nya tidak lupa saya bawa. Di tengah perjalanan menuju dokter kulit, eh ada razia. Ini razia pertama setelah 2 tahun merantau di Bekasi. Dengan PD saya berhenti meminggirkan motor untuk meladeni pak Polisi yang meminta kelengkapan surat. OK, saya tunjukkan SIM dan STNK. Aman, pikir saya. Eh tapi apa mau dikata, sudah jatuh tertimpa tangga, pikir saya saat itu. Ternyata SIM yang saya bawa di dalam dompet sudah expired. SIM nya tertukar dengan yang sudah tidak berlaku lagi. Padahal kan saya sudah memperbarui SIM C saya. Masih gress. Lokasi razia pas banget dekat dengan kos. Saya menawarkan pak polisi untuk menunggu saya mengambil SIM di kos.

“Wah, tidak bisa Mbak. Ini kan pokoknya Mbak bawa motor tidak bawa SIM.”
“Kan yang penting saya punya SIM Pak. Ada ijin untuk mengemudi”, saya jawab lagi.
“Ambil surat tilang di atasan saya di sana Mbak”.
Wah ini pak polisinya ndak pake tawar-tawar lagi tetep ditilang. Yasudahlah, saya juga sedang buru-buru menuju dokter kulit. Wajah saya sudah gatal banget ini. Kalau mau slip merah, harus ikut sidang di pengadilan mana entah saya kurang paham. Kebetulan saya pada saat itu sedang penasaran dengan slip biru. Jadi saya coba minta slip biru, toh saya sedang tidak bawa cash juga. 

“Saya minta slip biru saja Pak”
“Oh slip biru bayarnya di bank BRI juanda saja, tidak bisa bank yang lain”
“Ok, tidak apa-apa Pak, mana alamat bank BRI juandanya, saya buru-buru mau ke dokter kulit, muka saya gateeelll,” sembari menunjukkan wajah saya yang sudah merah-merah kayak abis kerokan.
“Bayar di bank kena Rp 250.000. Bayar di sini juga bisa sebenarnya, lebih murah.” Pak polisinya mulai mancing-mancing ini.
“Yaelah, mau bayar di sini gimana Pak. Ini lihat wajah saya merah-merah ini, saya ini mau ke dokter Pak. Ini uang di dompet tinggal 50 ribu, buat ke dokter Pak. Masa mau diminta juga.” Rada sebel juga pak Polisinya malah minta duit yang di dompet saya, keliatan ada birunya. Padahal cuman sisa biru selembar *cry*. 

“Yasudah lah Mbak.” Tiba-tiba pak Polisinya memberikan kembali SIM lama dan STNK motor saya, dan melepaskan saya. Alhamdulillah, ini berkat berdoa dulu sebelum berangkat. Manjur. Melindungi diri dari manusia maupun jin. 

Akhirnya saya langsung tancap gas ke dokter kulit untuk segera menyembuhkan wajah saya. Bye pak Polisi! Agaknya pak polisinya males juga menunggu saya transfer kemudian juga toh dia tidak dapat apa-apa kan. Kesimpulan, seperti kebanyakan artikel yang saya baca, para polisi juga sepertinya memang rada malas kalau harus berurusan dengan slip biru, termasuk polisi yang saya temui ini, entah karena teknis & prosedur atau ada udang di balik piring *eh*. 

Kesimpulan lain adalah jangan bawa uang banyak-banyak di dompet, terutama saat ditilang, bisa membuat pak polisinya terpancing, dan kita juga terpancing bersedia bayar di tempat. Alhasil dendanya malah masuk kantong perorangan, bukan kas negara.
Kalau kalian punya pengalaman yang lebih seru soal tilang-tilangan, monggo share yuuuk…

No comments:

Post a Comment